mungkin kita berada di koma
kemudian melanjutkan lagi
membaca satu-satu kata bahkan alphabet yang tersusun rapi di jingga
kalau sudah saatnya kita meninggalkan koma
apakah harus berlari mengejar titik?
setelah itu kita hanya mengulang
koma…
titik…
dengan titik dua beberapa diantaranya
mengartikan kalau nanti hanya ada satu
titik!
Posted in poems | Leave a Comment »
aku ingin menulis tentangmu. sama dengan pria-pria sebelummu yang kutulis tentangnya dan kutengok ketika mereka menjadi kenangan. Aku ingin menulis sesuatu untuk menggambarkanmu, menggambarkan perasaanku padamu, menggambarkan fase-fase dari keyakinanku. Aku ingin melukiskanmu pada kanvas yang tergantung di sudut hatiku, karena sebenarnya kita tidak perlu mengartikan apa-apa dari sebuah perjalanan yang mungkin akan panjang. cukup kulukis dan kulihat. semoga hanya keindahan yang bisa kau,aku, dan mereka lihat(030409)
Posted in lelakiku | Leave a Comment »
saya benci!!!
benci mengakui dan memikirkan serta memiliki kenangan bersamanya
saya benci dengan titik terendah kualitas kemanusiaanku ini
saya benci punya rasa bersalah yang begitu besar
saya benci kenapa bisa begitu sayang padanya
saya benci kenapa selalu mengabaikan kalau ada perempuan yang lebih berhak atas kewajiban padanya
saya benci menjadi perempuan yang bodoh
saya benci selalu luulh padanya dan tak bisa bicara kebenaran padanya
saya benci mengukir sejarah sebagai korbannya
saya benci dengan apa yang kuketahui tentangnya dan kuabaikan karena percaya padanya
saya benci menyadari kalau air mata yang saya keluarkan tak bisa mengubah apapun yang telah terjadi
saya benci telah tahu siapa dia tapi selalu menerima bahwa itulah kekurangannya tanpa pernah mau peduli dengan apa yang membahayakan saya nantinya
saya benci berbohong dan tak terbuka pada orang-orang yang menyayangiku,tentangnya
saya benci karena sampai hari ini saya belum melupakannya
dan saya benci untuk tidak bisa membencinya walaupun dia menghapus putihku!
(201208)
(mudah2an thiz the last notes bout u…)
Posted in lelakiku | Leave a Comment »
kenangan bertamu
diantar deras hujan tadi
aku mendapati luka belum kering,di hatimu
ah,kenangan yang sok tahu
sejak kapan kau punya hak
memasuki ranah hatiku
rasamu saja tak becus!
kenangan diam
mencoba langkah pelan-pelan
entah masuk lagi
tapi sepertinya ingin pergi
karena hujan tak lagi bunyi
hanya jengkrik yang bernada
syukurlah kau pulang
migrainku kambuh lagi
kenangan…pahit!
tak mempan dengan gula
dari bibir yang kau berikan
untuk bibirku malam ini!
(291108)
Posted in poems | Leave a Comment »
aku mengharapkannya lagi
setelah menjadi patung
pada kebekuan masing-masing
setelah berusaha ikhlas
pada hati yang berubah rasa
setelah melewati kunang-kunang
bernada pada sumbang malam
ya, aku menanti lagi
pada malam yang dirinai hujan
pada kata yang dibaluri rindu
berharap akan tiba
kau memintaku
di tengah hujan yang menyiram
seakan menanti jawabku,jawabmu
penyatuan rasa dan asa
“maukah kau menemani ku
hari ini,esok,dan sampai maut menjemput…”
(201108)
Posted in poems | Leave a Comment »
tuk…
.tuk..
..tuk.
…tuk
tunggu sebentar
kurakit sesuatu untuknya
supaya tak tersesat
pada sungai yang mengalir
hujan…
katakan padanya
malam ini, rindu
bergelayut manja
pada hatiku untuknya
(091108)
Posted in poems | Leave a Comment »
di timur, yang memisahkan orang dengan yang lainnya, hanya cahaya -kingdom of heaven
Posted in kutipan | Leave a Comment »
Pada deras hujan yang membuahi bumi tadi
kutitip shalawat untukmu Rasulku
dan para sahabatmu,kukirim shalawat padamu
rindu yang tak punya tepian
kuinigin setiap desahan nafsku
hanya mentasbiskan namamu
subhanallah,alhamdulillah,allahuakbar
Tuhan,kurindu ketukmu
pada birahi berbau anyir dosa
terburai di setiap peleburanku
karna aku tahu
aku belum halal baginya
(261008)
Posted in poems | Leave a Comment »
entahlah…
kali ini mungkin hanya pelangi
bergelayut manja pada cakrawala yang menampakkan durjana
aku yakin, kau hanya pelangi…
(091008)
Posted in poems | Leave a Comment »
mungkin kau senja
aku singgah sejenak
melepas rasa
memeluk kagum dan wangi ibu
sembari mencium trinitas keabadian
mungkin kau senja
yang selalu rela
sambut birahi yang bercampur penat
karena itu cahaya,katamu
dan kita mengulang senyum dan lingkar mata yang selalu sama
mungkin kau senja
tak tahu keabadian itu apa
karena esok
topeng dan kepuraan-puraan menutupi borok hina
(09108)
Posted in poems | Leave a Comment »