”Sepertinya dia lebih mencintai warung kopi itu daripada aku…”
Kebutuhan lelaki akan warung kopi sampai kini belum kupahami. Para lelaki seperti tak afdol kalau belum menapakkan kakinya di warkop setiap hari!
Dahulu, ayahku setiap balik ke Makassar, pagi-pagi beliau sudah sibuk membangunkan adik lelakiku atau menelpon sepupu lelakiku hanya untuk ngopi di warkop! Pernah tanteku sampai ngomong “Padahal rasa kopi di warkop itu biasa-biasa saja!”.
Para lelaki yang nongkrong di warkop itu sepertinya tak hanya sekedar untuk nyarap kopi. Karena ingin menikmati suasana kumpul-kumpulnya kah?
Dan suamiku, sepertinya candu pada warkop! Kupikir kebiasannya nongkrong di warkop dekat rumah akan berakhir setelah kami menikah. Ternyata tidak, lima tahun kami menikah, rutinitasnya itu tak pernah hilang! ”Kebiasaan-kebiasaan sebelum menikah itu akan berubah jika kita sudah menikah nantinya,” katanya beberapa bulan sebelum kami menikah. Nyatanya, tak ada yang berubah!
Kata ibuku suatu ketika, jangan pernah berharap lelaki akan berubah ketika dia menikah, makanya sebelum memutuskan mencari lelakimu, pilah dan telaah dulu apa-apa saja kebiasannya yang bisa kau terima.
Aku menerimanya. Kebiasannya nongkrong di warkop milik Daeng Tobo itu, Aku terima saja. Toh awal-awal kami pacaran, dia hanya memanfaatkan warkop sebagai tempat minum kopi. Walaupun sempat beberapa kali, dia membuatku kesal. Awalnya kupikir mungkin perasaanku saja yang sensitif. Terkadang kalau lelakiku lagi di warkop dan dia menelponku, rasanya lebih baik dia tak usah menelponku. Atau jika Aku yang harus menelponnya dan ternyata dia lagi di sana, rasanya salah waktu buat menghubunginya. Beberapa kali kebiasaannya nongkrong itu membuatku kesal! Pernah suatu malam, Aku menghubunginya. Di telepon tidak diangkat-angkat, di sms tidak dibalas-balas. Pas dia menelpon kembali, dengan santainya dia bilang kalau ponselnya disimpan di kamar pemilik warkop. Bahkan, beberapa kali kalau dia menelponku dan lagi nongkrong, dia malah lebih banyak ngobrol dengan orang di warkop daripada yang ditelponnya!
Kebiasannya itu lambat laun berubah, kupikir intensitasnya akan berkurang, ternyata tidak! Lama kelamaan, baginya warkop tidak lagi hanya sekedar menyeruput kopi. Ternyata, teman-teman dari komunitas vespanya sering kumpul di sana. Walhasil, setiap dia pulang kerja, warkop Daeng Tobo menjadi tempat pertama yang disinggahinya. Bukannya pulang ke rumah, melihat si sulung Safa sudah berada di rumah atau belum, melihat aku, istrinya memasakkan apa untuk malam nanti. Tidak ada ritual seperti itu buatnya selepas dari kantor. Dalam skejul tak tertulisnya, warkop Daeng Tobo wajib disinggahi. Dia pernah bilang, ”Rasanya sehari tanpa kopi tak afdol!” dan Aku memakluminya. Lelaki mungkin membutuhkan pelarian-pelarian kecil untuk kepenatan kerjanya. Dan selain rumahnya, warkop bisa membantunya melepaskan penat itu. Tapi, di lain waktu, kemahfumanku itu tergoyahkan. Beberapa kali ini masalah warkop menghiasi topik perdebatan kami. Rasa penasaranku tak pernah dijawabnya, kenapa dia lebih mencintai tempat itu daripada Aku dan Safa!
Maka di sinilah aku, tersesaki asap rokok yang memadati ruangan kecil itu. Pria dimana-mana berbicara masalah politik, uang, dan hidup. Di sudut kiri ruang, ada yang menyodok bola bilyar sambil terkekeh-kekeh karena bolanya tidak masuk. Di sudut lain, ada yang berlomba main poker di facebook hasil dari koneksi wifi. Dan mungkin saja ada beberapa pengunjung warkop Daeng Tobo yang heran melihat kehadiranku. Hampir dua jam aku di sana. Memesan kopi dan kue kecil. Tak satupun yang menyapa, karena tentu saja tak mengenaliku. Kata suamiku, teman-teman tongkrongan di warkopnya hanya ada pada sore sampai larut malam. Pagi hari, tempat itu hanya diisi oleh PNS yang bosan di ruangannya. Dua gelas sloki kopi kuseruput, mencari tahu apa kenikmatan di warkop ini yang membuat suamiku bisa sampai subuh berada di sana. Jawabannya nihil. Hanya bajuku saja yang dihinggapi bau rokok. Beberapa kali aku terbatuk-batuk karena keterpaksaan menghirup udara yang terpolusi asap rokok. Dua jam ini terasa sia-sia. Belum ada jawaban yang kutemui, apa sebenarnya kenikmatan nongkrong di sini. Kopinya tak istimewa, tak ada perempuan yang menor di sana –yang kupikir- menjadi godaan, dan percakapan-percakapan kasar yang membuatku pusing. Akhirnya, aku pulang. Kembali ke rumah, memasak buat makan malam suami dan anakku tanpa jawaban apapun atas rasa penasaranku.
Sore itu, suamiku pulang. Menyimpan tas dan motornya. Herannya, kali ini dia tak langsung ke warkop. Kali ini, dia duduk di ruang tamu sambil membuka-buka tasnya. Safa, langsung menghamburkan dirinya di pangkuan ayahnya. “Tumben Ayah tak ke warkop Daeng Tobo lagi?” pertanyaan anakku membuatku menengok ke ruang tamu. Ingin melihat reaksi suamiku. Suamiku memandang Safa sambil tertawa. “Memang Ayah penjaga warkop, tiap hari harus ke sana?”. Kedua makhluk yang kucintai itu tertawa bersama sambil menikmati pisang goreng dan teh yang kubuatkan beberapa menit lalu. Lalu, kusambung pertanyaan anakku, ”Katanya tak afdol kalau tak ke warkop, tadi pagi kan belum ke sana, Ayah?”
”Ah, tidak seperti itu. Bunda kan juga tidak terlalu suka kalau Aku sering ke sana..” suamiku menutup kalimat itu dengan beranjak ke kamar. Aku tak menjawab lagi. Menutup percakapan sore itu dengan ke dapur melanjutkan masakan makan malamku.
Tapi, hari ini betul-betul aneh. Selepas Isya, Aku menunggui gerakan suamiku. Mengira-ngira kapan dia akan pamit ke warkop. Safa jadi senang sendiri, melihat Ayahnya ada di rumah. Bahkan menemaninya mengerjakan PR sekolah. Pukul 10 malam berlalu, biasanya suamiku masih berada di warkop Daeng Tobo. Tapi hari ini, setelah membantu Safa mengerjakan PR, suamiku masih berada di rumah. Iseng aku bicara, ”Ayah jam segini kan masih di Warkop?” dia hanya membalas senyum, sembari mengerling centil. Hari ini, memang terasa berbeda. Kami lebih banyak bicara. Membahas pekerjaannya, pekerjaanku, dan keseharian Safa.
Sebenarnya, lambat laun Aku berusaha memahami rutinitas warkopnya. Sebagai suami, dia masih memberi perhatian kepada kami. Jika tak di rumah, pasti dia masih menyempatkan diri menelponku dan menanyakan kabar kami. Mungkin kurang efektif bagiku, tapi baginya barangkali sudah cukup. Tapi hari ini, dia tiba-tiba berubah. Yah, kupikir ini perubahan temporer saja. Besok atau lusa, dia pasti akan kembali ke rutinitasnya, nongkrong di warkop!
Seminggu, dua minggu, sebulan, ternyata suamiku tak lagi menginjakkan kakinya ke warkop Daeng Tobo seperti dulu lagi. Setiap kutanya, dia malah balik bertanya,”Bukankah kau lebih suka kalau Aku tak nongkrong di warkop?”
Sesekali di hari sabtu, dia memang masih menyempatkan diri ke sana. Tapi itu hanya menyeruput kopi dan berbincang. Setelah itu langsung pulang. Kebiasaan di rumah kami menjadi berubah. Aku senang sekaligus penasaran, apa yang menyebabkan suamiku tak lagi menuliskan di skejulnya ”nongkrong di warkop”. Setiap kutanya, dia hanya tersenyum dan mengerlingkan matanya. Lama kelamaan, suamiku membuat beberapa rutinitas baru. Misalnya di hari minggu, membuatkan kami sarapan dan mengajak Aku dan Safa keliling kota. Setiap malam setiap pulang kantor, dia pasti menemani Safa belajar dan menemaninya tidur. Aku yang awalnya hanya lebih banyak berkomunikasi dengannya lewat telpon, kini lebih banyak meluangkan waktu bersama, menonton televisi, bercanda di kamar, dan membicarakan impian-impian masa depan kami.
”Mungkin ini agak terlambat, tapi terimakasih atas waktumu beberapa bulan ini. Menemani Safa belajar dan tak membuatku sepi di malam hari,” Aku memulai percakapan suatu ketika. Mencoba mengungkit perubahannya.
Dia lalu menyodorkan secarik kertas padaku. Kertas yang pernah kucoret-coret waktu malam dimana Aku menangis tak tahan dengan kebiasaan suamiku. Yang kemudian kubuang ke tempat sampah. Setidaknya aku lega dengan mencurahkan isi hati pada secarik kertas. Aku harus memaklumi karakter suamiku yang cuek. Walaupun mengungkapkan perasaanku padanya, toh dia pasti hanya akan bilang maaf.
Dia membaca isi kertas itu ”Sepertinya, suamiku lebih mencintai warung kopi itu daripada Aku. Aku tak tahu apa istimewanya tempat itu baginya. Mungkin Aku lah yang paling sabar dengan semua ini. Banyak hal yang harusnya dia tahu, termasuk keguguranku bulan lalu yang tak sempat-sempat Aku sampaikan padanya. Tentang betapa sakitnya hatiku kehilangan adik Safa. Tapi, sepertinya mengganggu keasyikannya dengan warkop itu membuatku tak tega. Mencintainya berarti mengerti apa kelemahannya dan mau menerima apa yang tak bisa diubah dari kehidupannya. Aku hanya berdoa padamu, Tuhan. Kuatkan hatiku untuk menerima suamiku apa adanya,” selepas membaca itu dia menangis, dan kemudian memelukku.
”Maafkan aku yang tak mengerti keadaanmu. Aku terlalu sibuk dengan duniaku,” Suamiku membisiki telingaku dalam pelukannya.
Aku balik membisikinya, ”Suamiku, tak ada kata terlambat untuk berubah. Aku hanya ingin Tuhan memberiku keikhlasan untuk menerima kau apa adanya.”
Suamiku mengecup keningku berulangkali, di balik bajunya, dia mengeluarkan sebuah cincin. ”Sayang, inilah hasil dari berbulan-bulan Aku tak nongkrong di warkop, maafkan aku…”
Cincin itu dikenakannya di jariku. Aku mengecup punggung tangannya pertanda kalau Aku memaafkannya.(*)
Makassar,040810 for coffee shop lovers…
(sudah dimuat di harian fajar,minggu,08082010)